Parodi Negeri Poci Jilid IV
Bokir Kobama Ketemu Caleg Partai Nalar Sehat di Kuburan Keramat
Bokir Kobama sehabis dilantik menjadi Presiden Negeri Poci bertekad memulai hari-hari barunya dengan melakukan beberapa tradisi. Salah satunya adalah tradisi mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang menjadi warisan leluhur negeri Poci. Dalam benak Bokir Kobama, dia berniat bahwa kunjungan yang dia lakukan adalah bentuk penghormatannya terhadap sejarah berdirinya Negeri Poci. Walau bagaimanapun Bokir Kobama sadar bahwa keberadaan dirinya sebagai Presiden Negeri Poci tidak akan pernah ada jika Negeri Poci tidak berdiri.
Salah satu tempat bersejarah yang akan dikunjungi Bokir Kobama adalah Makam Ki Gede Sebayu yang terletak di Desa Danawarih Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Ki Gede Sebayu menurut riwayat berdirinya Negeri Poci adalah seorang bangsawan keturunan Bupati Ponorogo yang mendapat gelar kehormatan Tumenggung dari Raja Mataram Panembahan Senapati atas prestasinya membangun negeri Mataram di pesisir pantau utara.
Pas malam Jumat Kliwon, Bokir Kobama menunggu balasan SMS dari Man Draup, becak driver kesayangannya yang akan segera menjemputnya di perempatan Kejambon.
”Ting-ting!” Handphone Bokir Kobama berkedip, masuk SMS dari Man Draup.
”
Wis siap bos, tembe anjog ning dampar Karang Dawa!” (Sudah siap bos, baru sampai di rel kereta Karang Dawa—500 meter dari perempatan Kejambon). Bokir Kobama nyengir, Man Draup memang selalu setia menemani kemana pun Bokir Kobama pergi.
Tak sampai 3 menit Man Draup sudah menarik rem becak di pangkal pahanya, dan tersenyum lebar ke arah Bokir Kobama yang sudah berpakaian rapi dengan jas kebesarannya, dasi merah Indonesia dan rokok Djaja di sudut bibir kanannya.
”
Pan maring ndi bos, kayong amleng?” (Mau ke mana bos, sepertinya lama tak terdengar kabar?”, Draup menyapa Bokir Kobama.
”
Iya kiye, lawas ya ora tau kloyongan karo sampeyan, pangapurane bae ya akeh rapat Kabinet Negeri Poci sing ndadekena aku ora bisa sering-sering lembar.” (Iya ini, lama tidak pernah berkeliling dengan kamu, mohon maaf saja ya banyak rapat Kabinet Negeri Poci yang membuat aku tidak bisa sering keluar), jawab Bokir Kobama tersenyum kecut.
”
Ya wis ooh, gagiyan aja kesuwen, kiye joke wis tak ganti sing kulit sing rada penak kanggo bokonge sampeyan sing rada tipis,” (Ya sudah, segera jangan kelamaan, ini joknya (becak) sudah diganti kulit yang agak enak untuk pantat kamu yang agak tipis) sahut Man Draup sambil melihat Bokir Kobama yang memang berperawakan langsing kurus.
”
Saiki gilirane sampeyan bakal nggenjot sing rada theol, bengi kiye nyong pengen maring Desa Danawarih ning Balapulang kidul kana,” (Sekarang giliran kamu yang bakal genjot sampai kecapean, malam ini aku ingin pergi ke Desa Danawarih di Balapulang sebelah selatan sana) tutur Bokir Kobama sambil menyamankan dirinya di jok becak.
”
Cerem bos, wong arane nggenjot tah wis ben dinane nyong, Banjaran Slawi Balapulang tah wis biasane nyong, sampeyan kan ngarti jamane nyong esih nom-nome biasa nggawa bodin Danawarih sing terkenal pulen kae,” (Beres bos, namanya saja menarik (becak) itu kan sudah tiap hari kulakukan, Banjaran Slawi Balapulang itu sudah biasa kujalani, kamu kan tahu jaman aku masih muda sudah biasa membawa Ketela Pohon Danawarih yang terkenal pulen itu,” jawab Man Draup dengan pede.
Bokir Kobama ditemani Man Draup kemudian terlihat menyusuri jalan Tegal Slawi Balapulang ke arah selatan menuju ke Desa Danawarih. Jalannya memang agak mendaki tapi Man Draup terlihat tidak ngos-ngosan karena sebelum berangkat dia sudah makan
Ponggol Sega Ndog (Nasi bungkus, sayur tempe khas Tegal plus telor) ditambah doping obat kuat
Pil Kita. Man Draup memang paling siap untuk mengantar bos kesayangannya.
Cukup lama akhirnya Bokir Kobama bersama Man Draup sampai juga di Danawarih tempat makam Ki Gede Sebayu yang terkenal sebagai leluhur di daerah Tegal Brebes Slawi dan sekitarnya. Tampak terlihat satu makam dibungkus Kijing (keramik atau semen beton) yang rapi. Bau harum pandan, melati, kenanga dan kembang setaman tercium kuat, tampak asap dupa mengepul tipis dengan beberapa sesaji khas Jawa seperti lombok abang (cabe merah) dan bawang merah, dengan bungkusan daun pisang bubur nasi merah putih terlihat di beberapa tempat. Kebanyakan orang Jawa mempercayai bahwa sesaji itu memang sengaja dipersembahkan bagi Ruh para leluhur yang mendiami tempat-tempat keramat seperti makam Ki Gede Sebayu ini.
Bokir Kobama sejatinya bukanlah orang yang mempercayai bahwa ruh-ruh atau spirit-spirit memang ada di tempat-tempat keramat. Bokir Kobama yang pernah belajar ilmu Antropologi Budaya memahami bahwa kepercayaan tradisional memang harus dihormati sebagai warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Di balik berbagai sisi mistis yang menyelimuti, Bokir Kobama menilai bahwa sesungguhnya tradisi-tradisi semacam ini adalah kekayaan budaya dan cagar budaya tradisional yang terbukti efektif membawa hingga jaman kini filsafat hidup leluhur Negeri Poci yang di masa hidupnya harus menciptakan cara agar nilai-nilai yang dia ajarkan, nilai-nilai yang menjadi unggulan peradaban harus bisa diwariskan ke generasi masa depan.
Tampak di sebelah makam ada seorang dengan pakain rapi bermotif batik khas anggota DPR jaman kini, sedang memanjatkan doa dengan khusyuk. Bokir Kobama tidak ingin mengganggu suasana itu. Dengan bersila di belakang Bokir Kobama menunggu gilirannya. Tampak orang itu sudah selesai dan dia pun ternyata segera menoleh ke arah Bokir Kobama.
”
Eh Bapake Presiden Bokir Kobama, wis anjog ya!” (Eh, Bapak Presiden Bokir Kobama sudah sampai ya) sahut orang itu dengan ramah.
Bokir Kobama agak samar-samar ingat wajah orang yang menyapanya.
”
Aja klalen, kiye nyong Ragil, Ragil Usro seka DPRD kota Tegal,” (Jangan lupa, ini saya Ragil, Ragil Usro dari DPRD kota Tegal) sahut orang itu sambil menjabat tangan Bokir Kobama. Bokir pun segera menggenggam tangan orang yang memang pernah dia kenal.
”
Oh iya sampeyan Ragil Usro ya, sing Partene arane Partai Nalar Sehat kae ya, sing saiki dadi ketua komisi Kesejahteraan Rakyat DPRD kota Tegal ya, sing saiki nyaleg maning?,” (Oh iya, anda Ragil Usro kan, yang partainya bernama Partai Nalar Sehat itu, yang sekarang menjadi ketua komisi Kesejahteraan Rakyat DPRD kota Tegal ya, yang sekarang menjadi caleg lagi?) jawab Bokir Kobama dengan tersenyum lebar.
”
Lha kuwe, Ganing jebule sampeyan ngarti ya, anane enyong saiki seka partai cilik bisa dadi Ketua Komisi kiye soale nyong sering nyekar nang kene,” (Nah itu, ternyata anda mengerti ya, adanya aku sekarang yang berasal dari partai kecil ternyata bisa menjadi Ketua Komisi karena aku sering ziarah ke sini) jawab Ragil Usro dengan bersemangat.
”
Ader, ader kaya kuwe pijara?!” ( Masak sih, masak sih begitu, kok bisa?!) tanya Bokir Kobama dengan antusias.
”
Iya Sung, Yakin! Maune nyong ora percaya, tapi sedulure nyong Mbah Rekso pirang tahun kepungkur nitipi nyong keris cilik luk sanga. Jarene Mbah Rekso keris kuwe warisane Ki Gede Sebayu sing petilasane nang kene. Ndilalah, sak wise nyong nyimpen keris kuwe karir politike nyong langsung moncer. Sing pertama nyong kepilih dadi anggota DPRD padahal partaine partai cilik, sing sak uwise nyong malah bisa dadi ketua Komisi Kesra, apa ora penthol kuwe,” (Iya Sung ,Yakin! (sumpah dalam dialek tegal) Tadinya aku tidak percaya tetapi saudaraku Mbah Rekso beberapa tahun lalu menitipkan padaku keris kecil dengan Luk Sembilan. Katanya Mbah Rekso keris itu adalah warisan dari Ki Gede Sebayu yang makam peninggalannya ada di sini. Ndilalah, setelah aku menyimpan keris itu karir politikku semakin bersinar. Yang pertama aku terpilih menjadi anggota DPRD sekalipun aku berasal dari partai kecil, selanjutnya aku malah bisa menjadi Ketua Komisi Kesra apa tidak jempolan semua itu,” tutur Ragil Usro dengan penuh keyakinan.
Bokir Kobama tampak menutup mulutnya dengan tenang sambil tersenyum agak masam dan kening berkerut, sambil dia menatap wajah Ragil Usro yang ada di depannya.
”
Sadulurku Ragil Usro, sampeyan kena yakin nemen karo tuahe Keris utawa tuahe kuburan kiye, tapi sampeyan ya musti eling. Sing marahi sampeyan nduwe prestasi kuwe salugune ya kerja keras sampeyan dewek. Sampeyan kelingan belih anane ngewiwiti kampanye politik sing langsung ketemu ning emperan-emperan pasar. Sampeyan kelingan anane sampeyan kampanye beras murah kanggo wong dhuafa. Tur sampeyan kan nganti saprene ya ora gelem korupsi oya? Kuwe sing marai sampeyan moncer. Keris kuwe ya sebenere ya keris sing kudu dirumat anane maqome keris. Keris kan warisan budaya leluhur sing ora mung kanggo jimat utawa pengandel. Keris kuwe nduwe filosofi sing ora mung kanggo pamrih pangkat utawa pamrih digdaya. Ana sing akeh bisa disinauni saka warisane leluhur Negeri Poci, ora mung keris esih akeh liyane. Contohe makam Ki Gede Sebayu kiye, dudu makame sing keramat utawa berkahe tapi prestasi almarhum Ki Gede Sebayu ning jaman semana bisa nggawe uripe wong tlatah pantura gemah ripah loh jinawi,” (Saudaraku Ragil Usro, anda boleh yakin sekali dengan tuah keris atau tuah kuburan ini, tapi anda juga harus ingat. Yang membuat anda mempunyai prestasi itu karena anda sebenarnya karena kerja keras anda sendiri. Anda ingat tidak dengan memelopori kampanye politik yang langsung bertemu di emper-emper pasar. Anda ingatkah dengan kampanye anda tentang beras murah bagi orang Dhuafa. Lagi pula anda sampai saat ini kan tidak mau korupsi kan? Itu yang menyebabkan anda bersinar. Keris itu sebenarnya keris yang memang harus dirawat dan diperlakukan sebagai mana halnya keris. Keris adalah warisan budaya leluhur yang tidak hanya berakhir menjadi jimat atau benda penguat keyakinan. Keris itu sendiri mempunyai filosofi yang tidak hanya diperuntukkan buat pamrih kepangkatan atau pamrih kekuasaaan. Ada banyak yang bisa dipelajari dari warisan-warisan leluhur Negeri Poci, tidak hanya keris masih banyak lainnya. Seperti Juga makam Ki Gede Sebayu ini bukan karena makamnya memang keramat atau berkah yang didapat karena mengunjung makam tetapi harus didingat prestasi almarhum Ki Gede Sebayu di jaman dahulu yang bisa membuat hidup orang di daerah pesisir pantura ini menjadi makmur dan sejahtera) tutur Bokir Kobama mencoba menjelaskan sisi lain warisan budaya Negeri Poci.
”
Pancen ora salah wong Negeri Poci, Tegal Brebes Slawi milih sampeyan Bokir Kobama dadi presiden. Esih enom tapi wis bisa waskita.” (Memang tidak salah orang dari Negeri Poci, Tegal Brebes Slawi memilih anda Bokir Kobama sebagai presiden. Masih muda tetapi sudah bisa menjadi bijaksana) tutur Ragil Usro kepada Bokir Kobama
”
Matur Nuwun Ragil, arane kiye amanate wong pirang-pirang nyong ya tulung dijagani eben orang keblinger kekuasaan. Tulung nganggo partaine ente Partai Nalar Sehat ente tetep kritis karo kabeh apa sing tak tindakena, tetep kabeh nganggo pertimbangan nalar sing bener-bener sehat,” (Terima kasih Ragil, ini semua adalah amanat banyak orang, tolong saya dijaga agar tidak menyalahgunakan kekuasaan. Tolong dengan partai anda Partai Nalar Sehat anda tetap kritis dengan apa saja yang aku lakukan, usahakan semua menggunakan pertimbangan rasional yang benar-benar sehat) sahut Bokir Kobama sembari menjabat tangan Ragil Usro dengan penuh terima kasih.
Giliran Bokir Kobama pun tiba, Ragil Usro duduk dibelakang melihat Bokir Kobama berdoa dan melakukan perenungan di sebelah makam leluhur Negeri Poci untuk memikirkan masa depan Negeri Poci yang sekarang sedang diembankan di pundak Bokir Kobama.