Tuesday, November 03, 2009

Kisah Seorang Putri Yang Tidak Sopan

Alkisah di sebuah wilayah di kerajaan Suwarnabhumi hidup seorang gadis manis, agak kurus langsing, kulitnya kuning pucat, dengan tinggi sedang. Kalau berjalan orang bilang dia kelihatan seperti melayang. Mungkin karena berat tubuhnya yang tidak pernah lebih dari standar para wanita peraga busana. Entah mengapa orang lain susah payah mempertahankan berat di ukuran itu, tapi gadis manis ini entah mengapa tidak perlu bersusah payah dan hampir tanpa pantangan tetapi tetap sukses dengan ukuran 8, demikian ukuran tubuh yang paling mudah didandani kata para perancang busana.

Jika dilihat lebih cermat wajahnya bisa dibilang cenderung imut dengan garis wajah yang masih menunjukkan garis-garis kekanak-kanakan. Aneh memang karena sesungguhnya sang gadis bukanlah kanak-kanak. Saat ini sang gadis sebenarnya telah tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa. Ya, jangan tertipu oleh penampilannya, seperempat abad lebih dia telah malang melintang di atas dunia ini berbekal senyumnya yang kelihatan lugu dia terlihat akan sangat mudah ditipu laki-laki. Tapi jangan salah kira, sang gadis, panggil saja namanya putri, punya reputasi yang bagus dalam urusan menendang pantat laki-laki yang berniat macam-macam dengan dirinya.

Oh ya, gambaran di atas sebenarnya agak terlalu detil untuk mendeskripsikan sang gadis, karena di wilayah kerajaan Suwarnabhumi saat ini orang-orang sedang heboh mengharuskan para wanita untuk berkerudung. Kata mereka dewa-dewa tidak akan berkenan jika para wanita kelihatan menggoda hasrat laki-laki. Karena itu entah siapa yang punya ide, muncul tren berpakaian dengan berapa ciri, diantaranya, menutup rambut dengan kerudung. Menutup lekuk tubuh (nah ini yang paling tidak disukai para wanita). Mengenakan celana panjang longgar sampai mata kaki. Lebih ekstrimnya lagi bahkan ada yang perlu mengenakan cadar untuk menutupi wajah, lengkap dengan kaus kaki dan tangan. Tetapi para wanita di Suwarnabhumi sebenarnya tidak terlalu pusing dengan aturan berkerudung, atau bercadar yang cenderung menyeramkan. Walhasil para wanita di Suwarnabhumi cenderung menciptakan cara berpakaian yang tertutup tapi tetep fashionable.

Putri juga demikian, biar gak banyak diributin orang, putri juga memakai kerudung. Karena menurut para penceramah aturan dewa yang sering didengarkan oleh putri, kalau dia tidak berkerudung maka orang tua putri, lebih khususnya lagi sang papi akan menerima karma. Ah, ridiculus sebenarnya dalam benak putri, bisa-bisa saja sang penceramah aturan dewa bikin cerita yang menyeramkan. Tapi karena putri sayang banget sama papinya maka putri rela-rela saja berkerudung sejak saat dia berkembang menjadi seorang gadis.

Masih ingat dalam benak putri, saat-saat dia harus berkerudung di awal-awal masa remajanya. Ribet banget, pikir putri, kenapa, karena putri dikaruniai rambut yang tebal dan cenderung keriting, walhasil tiap kali dia memakai kerudung dia harus rela rambut tebalnya diikat, dan dijepit sampai ngepress agar tidak memenuhi kerudung yang tiap hari dia pakai. Kadang kalau putri sudah capek dengan rambut tebalnya maka dibiarkan saja dia menjepit seadanya sehingga rambut keriting tebalnya sering keluar menjorok dari kerudungnya dengan bentuk kerudung yang bisa berbentuk bulat tidak jelas karena buntalan di dalamnya berontak keluar.

Cukuplah soal kerudung, selain kerudung putri punya ciri khas yang tidak bisa dia hilangkan yaitu kaca mata. Entah mengapa karena genetik, atau faktor apa putri harus memakai kaca mata sejak masih belia. Kacamata itu ternyata yang membuat putri cenderung tidak menarik perhatian dari teman-teman laki-lakinya. Apa yang menarik dari seorang gadis kurus berkerudung dengan kacamata tebal. Padahal kalau kaca mata itu dilepas, oh dewa, mungkin orang akan terbelalak karena putri mempunya mata yang bulat dan berkantung dengan alis yang agak tebal, dengan cuping hidung empuk yang lucu lengkap dengan tulang hidung yang cukup mancung. Lucu, itulah wajah putri lengkap dengan dahinya yang lebar.

Tidak lengkap Putri tanpa hiasan di tangan, ya gelang, ternyata berbagai gelang yang menghiasi lengan kurus pucat lentik selalu dipilih berdasarkan cerita tertentu. Mulai dari tali gunung yang lecek, akar bahar yang eksotik, hingga berbagai ornamen logam yang tidak biasa tidak pernah lepas dari pergelangan putri. Lengkap dengan jam tangan yang cukup bagus putri adalah Master of Wrist.

Putri yang langsing dan berwajah lucu di sisi lain ternyata memiliki gaya bicara yang tidak biasa. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang malu-malu, putri malah cenderung malu-maluin. Sering kali kata-kata untuk menunjukkan kekotoran manusia keluar dari bibirnya yang hmmmmm, tidak terlalu tebal tapi tidak juga tipis dengan kurva yang cenderung mendatar di tengah-tengah, bukan berbelah seperti bibir bayi yang manis. Bibir itu bisa dengan cepat mengumpat, persis seperti umpatan preman di pasar atau umpatan yang biasanya hanya keluar dari kaum lelaki saat beramah tamah.

Tidak sopan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan karakter ngomong putri, yang suka ceplas-ceplos, bawel dan langsung sasaran bisa menjadikan dirinya si pahit lidah. Rentetan kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa secepat otaknya berpikir, dalam hitungan menit kata-kata yang meluncur mungkin bisa mengisi blog harian yang biasanya jarang-jarang diperbaharui. Tapi ternyata segala macam ketidaksopanan yang memeberondong dari bibir menarik itu, justru menjadi nilai lebih yang menjadikan putri memiliki karakter yang juga menarik.

Putri, seorang gadis langsing kurus, tidak sopan dan cenderung tidak menarik perhatian, ternyata mempunyai banyak cerita-cerita menakjubkan. Setiap inci bagian tubuhnya mampu bercerita. Seperti lagu John Mayer, Your Body is Wonderland, cerita-cerita dari seorang Putri yang tidak sopan adalah cerita-cerita yang menakjubkan. Banyak lagi yang bisa diceritakan dari seorang putri tetapi saat ini aku belum mampu untuk menulisnya.



Jakarta, November 03



I'm still crazy missing u Y.I.P

Wednesday, October 28, 2009

Posesif

"kalau ku mati, kau juga mati,"
"walau tak ada cinta, sehidup semati,"

Band Naif mempopulerkan lirik ini berapa tahun yang lalu, syair yang terenyuh dengan video klip yang pada saat itu sungguh tidak lazim, dan terbukti mendapatkan beberapa kali penghargan sebagai video klip terbaik. Model video klip itu aku mendengar kabarnya juga sudah mati, terkena aids, resiko dari kehidupannya yang terasing sebagai waria di negeri ini.

Posesif satu rasa keinginan yang kuat untuk memiliki sesuatu, apakah itu sesuatu yang telah menjadi milik, atau sesuatu yang menyenangkan, atau sesuatu yang jarang bisa kita rasakan di dunia yang penuh keterasingan, sepi dan cinta diri.

"like a narcissus turn into a flower"

Peter Gabriel melukiskan tokoh mitologi Narcissus yang tidak pernah mencintai siapapun kecuali dirinya, sampai pada satu transformasi si Narcissus harus menjadi sekuntum kembang biar dia menjadi sempurna.

Kenapa dari bicara posesif tiba-tiba loncat ke narsis, barangkali loncatan itu adalah reka-reka ingatanku bahwa keinginan untuk memiliki dan tidak merengkuh dan menggenggam erat-erat itu berasal dari rasa cinta diri yang berlebihan. Hanya memperhatikan kesenangan diri saja semua berpusat pada diri sendiri. The world is mine walaupun pada taraf yang paling kecil.

But its okay, karena orang bertemu juga dengan kehendak orang lain, keinginan orang lain, hasrat orang lain, walhasil gak gampang juga orang sebenarnya bertingkah posesif atau narsis.

Tuesday, October 20, 2009

Kalo Pengen Lihat YM Buddy List







Status YM


Status YM


Status YM


Status YM


Status YM


Status YM


Status YM


Status YM

Thursday, February 26, 2009

Bokir Kobama Ketemu Caleg Partai Nalar Sehat di Kuburan Keramat

Parodi Negeri Poci Jilid IV



Bokir Kobama Ketemu Caleg Partai Nalar Sehat di Kuburan Keramat



Bokir Kobama sehabis dilantik menjadi Presiden Negeri Poci bertekad memulai hari-hari barunya dengan melakukan beberapa tradisi. Salah satunya adalah tradisi mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang menjadi warisan leluhur negeri Poci. Dalam benak Bokir Kobama, dia berniat bahwa kunjungan yang dia lakukan adalah bentuk penghormatannya terhadap sejarah berdirinya Negeri Poci. Walau bagaimanapun Bokir Kobama sadar bahwa keberadaan dirinya sebagai Presiden Negeri Poci tidak akan pernah ada jika Negeri Poci tidak berdiri.



Salah satu tempat bersejarah yang akan dikunjungi Bokir Kobama adalah Makam Ki Gede Sebayu yang terletak di Desa Danawarih Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Ki Gede Sebayu menurut riwayat berdirinya Negeri Poci adalah seorang bangsawan keturunan Bupati Ponorogo yang mendapat gelar kehormatan Tumenggung dari Raja Mataram Panembahan Senapati atas prestasinya membangun negeri Mataram di pesisir pantau utara.



Pas malam Jumat Kliwon, Bokir Kobama menunggu balasan SMS dari Man Draup, becak driver kesayangannya yang akan segera menjemputnya di perempatan Kejambon.

”Ting-ting!” Handphone Bokir Kobama berkedip, masuk SMS dari Man Draup.

Wis siap bos, tembe anjog ning dampar Karang Dawa!” (Sudah siap bos, baru sampai di rel kereta Karang Dawa—500 meter dari perempatan Kejambon). Bokir Kobama nyengir, Man Draup memang selalu setia menemani kemana pun Bokir Kobama pergi.



Tak sampai 3 menit Man Draup sudah menarik rem becak di pangkal pahanya, dan tersenyum lebar ke arah Bokir Kobama yang sudah berpakaian rapi dengan jas kebesarannya, dasi merah Indonesia dan rokok Djaja di sudut bibir kanannya.



Pan maring ndi bos, kayong amleng?” (Mau ke mana bos, sepertinya lama tak terdengar kabar?”, Draup menyapa Bokir Kobama.



Iya kiye, lawas ya ora tau kloyongan karo sampeyan, pangapurane bae ya akeh rapat Kabinet Negeri Poci sing ndadekena aku ora bisa sering-sering lembar.” (Iya ini, lama tidak pernah berkeliling dengan kamu, mohon maaf saja ya banyak rapat Kabinet Negeri Poci yang membuat aku tidak bisa sering keluar), jawab Bokir Kobama tersenyum kecut.



Ya wis ooh, gagiyan aja kesuwen, kiye joke wis tak ganti sing kulit sing rada penak kanggo bokonge sampeyan sing rada tipis,” (Ya sudah, segera jangan kelamaan, ini joknya (becak) sudah diganti kulit yang agak enak untuk pantat kamu yang agak tipis) sahut Man Draup sambil melihat Bokir Kobama yang memang berperawakan langsing kurus.



Saiki gilirane sampeyan bakal nggenjot sing rada theol, bengi kiye nyong pengen maring Desa Danawarih ning Balapulang kidul kana,” (Sekarang giliran kamu yang bakal genjot sampai kecapean, malam ini aku ingin pergi ke Desa Danawarih di Balapulang sebelah selatan sana) tutur Bokir Kobama sambil menyamankan dirinya di jok becak.



Cerem bos, wong arane nggenjot tah wis ben dinane nyong, Banjaran Slawi Balapulang tah wis biasane nyong, sampeyan kan ngarti jamane nyong esih nom-nome biasa nggawa bodin Danawarih sing terkenal pulen kae,” (Beres bos, namanya saja menarik (becak) itu kan sudah tiap hari kulakukan, Banjaran Slawi Balapulang itu sudah biasa kujalani, kamu kan tahu jaman aku masih muda sudah biasa membawa Ketela Pohon Danawarih yang terkenal pulen itu,” jawab Man Draup dengan pede.



Bokir Kobama ditemani Man Draup kemudian terlihat menyusuri jalan Tegal Slawi Balapulang ke arah selatan menuju ke Desa Danawarih. Jalannya memang agak mendaki tapi Man Draup terlihat tidak ngos-ngosan karena sebelum berangkat dia sudah makan Ponggol Sega Ndog (Nasi bungkus, sayur tempe khas Tegal plus telor) ditambah doping obat kuat Pil Kita. Man Draup memang paling siap untuk mengantar bos kesayangannya.



Cukup lama akhirnya Bokir Kobama bersama Man Draup sampai juga di Danawarih tempat makam Ki Gede Sebayu yang terkenal sebagai leluhur di daerah Tegal Brebes Slawi dan sekitarnya. Tampak terlihat satu makam dibungkus Kijing (keramik atau semen beton) yang rapi. Bau harum pandan, melati, kenanga dan kembang setaman tercium kuat, tampak asap dupa mengepul tipis dengan beberapa sesaji khas Jawa seperti lombok abang (cabe merah) dan bawang merah, dengan bungkusan daun pisang bubur nasi merah putih terlihat di beberapa tempat. Kebanyakan orang Jawa mempercayai bahwa sesaji itu memang sengaja dipersembahkan bagi Ruh para leluhur yang mendiami tempat-tempat keramat seperti makam Ki Gede Sebayu ini.



Bokir Kobama sejatinya bukanlah orang yang mempercayai bahwa ruh-ruh atau spirit-spirit memang ada di tempat-tempat keramat. Bokir Kobama yang pernah belajar ilmu Antropologi Budaya memahami bahwa kepercayaan tradisional memang harus dihormati sebagai warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Di balik berbagai sisi mistis yang menyelimuti, Bokir Kobama menilai bahwa sesungguhnya tradisi-tradisi semacam ini adalah kekayaan budaya dan cagar budaya tradisional yang terbukti efektif membawa hingga jaman kini filsafat hidup leluhur Negeri Poci yang di masa hidupnya harus menciptakan cara agar nilai-nilai yang dia ajarkan, nilai-nilai yang menjadi unggulan peradaban harus bisa diwariskan ke generasi masa depan.



Tampak di sebelah makam ada seorang dengan pakain rapi bermotif batik khas anggota DPR jaman kini, sedang memanjatkan doa dengan khusyuk. Bokir Kobama tidak ingin mengganggu suasana itu. Dengan bersila di belakang Bokir Kobama menunggu gilirannya. Tampak orang itu sudah selesai dan dia pun ternyata segera menoleh ke arah Bokir Kobama.



Eh Bapake Presiden Bokir Kobama, wis anjog ya!” (Eh, Bapak Presiden Bokir Kobama sudah sampai ya) sahut orang itu dengan ramah.



Bokir Kobama agak samar-samar ingat wajah orang yang menyapanya.



Aja klalen, kiye nyong Ragil, Ragil Usro seka DPRD kota Tegal,” (Jangan lupa, ini saya Ragil, Ragil Usro dari DPRD kota Tegal) sahut orang itu sambil menjabat tangan Bokir Kobama. Bokir pun segera menggenggam tangan orang yang memang pernah dia kenal.



Oh iya sampeyan Ragil Usro ya, sing Partene arane Partai Nalar Sehat kae ya, sing saiki dadi ketua komisi Kesejahteraan Rakyat DPRD kota Tegal ya, sing saiki nyaleg maning?,” (Oh iya, anda Ragil Usro kan, yang partainya bernama Partai Nalar Sehat itu, yang sekarang menjadi ketua komisi Kesejahteraan Rakyat DPRD kota Tegal ya, yang sekarang menjadi caleg lagi?) jawab Bokir Kobama dengan tersenyum lebar.



Lha kuwe, Ganing jebule sampeyan ngarti ya, anane enyong saiki seka partai cilik bisa dadi Ketua Komisi kiye soale nyong sering nyekar nang kene,” (Nah itu, ternyata anda mengerti ya, adanya aku sekarang yang berasal dari partai kecil ternyata bisa menjadi Ketua Komisi karena aku sering ziarah ke sini) jawab Ragil Usro dengan bersemangat.



Ader, ader kaya kuwe pijara?!” ( Masak sih, masak sih begitu, kok bisa?!) tanya Bokir Kobama dengan antusias.



Iya Sung, Yakin! Maune nyong ora percaya, tapi sedulure nyong Mbah Rekso pirang tahun kepungkur nitipi nyong keris cilik luk sanga. Jarene Mbah Rekso keris kuwe warisane Ki Gede Sebayu sing petilasane nang kene. Ndilalah, sak wise nyong nyimpen keris kuwe karir politike nyong langsung moncer. Sing pertama nyong kepilih dadi anggota DPRD padahal partaine partai cilik, sing sak uwise nyong malah bisa dadi ketua Komisi Kesra, apa ora penthol kuwe,” (Iya Sung ,Yakin! (sumpah dalam dialek tegal) Tadinya aku tidak percaya tetapi saudaraku Mbah Rekso beberapa tahun lalu menitipkan padaku keris kecil dengan Luk Sembilan. Katanya Mbah Rekso keris itu adalah warisan dari Ki Gede Sebayu yang makam peninggalannya ada di sini. Ndilalah, setelah aku menyimpan keris itu karir politikku semakin bersinar. Yang pertama aku terpilih menjadi anggota DPRD sekalipun aku berasal dari partai kecil, selanjutnya aku malah bisa menjadi Ketua Komisi Kesra apa tidak jempolan semua itu,” tutur Ragil Usro dengan penuh keyakinan.



Bokir Kobama tampak menutup mulutnya dengan tenang sambil tersenyum agak masam dan kening berkerut, sambil dia menatap wajah Ragil Usro yang ada di depannya.



Sadulurku Ragil Usro, sampeyan kena yakin nemen karo tuahe Keris utawa tuahe kuburan kiye, tapi sampeyan ya musti eling. Sing marahi sampeyan nduwe prestasi kuwe salugune ya kerja keras sampeyan dewek. Sampeyan kelingan belih anane ngewiwiti kampanye politik sing langsung ketemu ning emperan-emperan pasar. Sampeyan kelingan anane sampeyan kampanye beras murah kanggo wong dhuafa. Tur sampeyan kan nganti saprene ya ora gelem korupsi oya? Kuwe sing marai sampeyan moncer. Keris kuwe ya sebenere ya keris sing kudu dirumat anane maqome keris. Keris kan warisan budaya leluhur sing ora mung kanggo jimat utawa pengandel. Keris kuwe nduwe filosofi sing ora mung kanggo pamrih pangkat utawa pamrih digdaya. Ana sing akeh bisa disinauni saka warisane leluhur Negeri Poci, ora mung keris esih akeh liyane. Contohe makam Ki Gede Sebayu kiye, dudu makame sing keramat utawa berkahe tapi prestasi almarhum Ki Gede Sebayu ning jaman semana bisa nggawe uripe wong tlatah pantura gemah ripah loh jinawi,” (Saudaraku Ragil Usro, anda boleh yakin sekali dengan tuah keris atau tuah kuburan ini, tapi anda juga harus ingat. Yang membuat anda mempunyai prestasi itu karena anda sebenarnya karena kerja keras anda sendiri. Anda ingat tidak dengan memelopori kampanye politik yang langsung bertemu di emper-emper pasar. Anda ingatkah dengan kampanye anda tentang beras murah bagi orang Dhuafa. Lagi pula anda sampai saat ini kan tidak mau korupsi kan? Itu yang menyebabkan anda bersinar. Keris itu sebenarnya keris yang memang harus dirawat dan diperlakukan sebagai mana halnya keris. Keris adalah warisan budaya leluhur yang tidak hanya berakhir menjadi jimat atau benda penguat keyakinan. Keris itu sendiri mempunyai filosofi yang tidak hanya diperuntukkan buat pamrih kepangkatan atau pamrih kekuasaaan. Ada banyak yang bisa dipelajari dari warisan-warisan leluhur Negeri Poci, tidak hanya keris masih banyak lainnya. Seperti Juga makam Ki Gede Sebayu ini bukan karena makamnya memang keramat atau berkah yang didapat karena mengunjung makam tetapi harus didingat prestasi almarhum Ki Gede Sebayu di jaman dahulu yang bisa membuat hidup orang di daerah pesisir pantura ini menjadi makmur dan sejahtera) tutur Bokir Kobama mencoba menjelaskan sisi lain warisan budaya Negeri Poci.



Pancen ora salah wong Negeri Poci, Tegal Brebes Slawi milih sampeyan Bokir Kobama dadi presiden. Esih enom tapi wis bisa waskita.” (Memang tidak salah orang dari Negeri Poci, Tegal Brebes Slawi memilih anda Bokir Kobama sebagai presiden. Masih muda tetapi sudah bisa menjadi bijaksana) tutur Ragil Usro kepada Bokir Kobama



Matur Nuwun Ragil, arane kiye amanate wong pirang-pirang nyong ya tulung dijagani eben orang keblinger kekuasaan. Tulung nganggo partaine ente Partai Nalar Sehat ente tetep kritis karo kabeh apa sing tak tindakena, tetep kabeh nganggo pertimbangan nalar sing bener-bener sehat,” (Terima kasih Ragil, ini semua adalah amanat banyak orang, tolong saya dijaga agar tidak menyalahgunakan kekuasaan. Tolong dengan partai anda Partai Nalar Sehat anda tetap kritis dengan apa saja yang aku lakukan, usahakan semua menggunakan pertimbangan rasional yang benar-benar sehat) sahut Bokir Kobama sembari menjabat tangan Ragil Usro dengan penuh terima kasih.



Giliran Bokir Kobama pun tiba, Ragil Usro duduk dibelakang melihat Bokir Kobama berdoa dan melakukan perenungan di sebelah makam leluhur Negeri Poci untuk memikirkan masa depan Negeri Poci yang sekarang sedang diembankan di pundak Bokir Kobama.

Friday, January 23, 2009

Pelantikan Presiden Negeri Poci Bokir Kobama

Parodi Negeri Poci Jilid 3

Selasa Pon 20 Januari 2009 menurut penanggalan Jawa memang hari yang baik untuk kelahiran seseorang. Kata nubuat Primbon pada hari Selasa Pon mencerminkan kelahiran bayi yang akan dinaungi sifat Satria Wibawa. Bokir Kobama merasa terhormat karena pada hari Selasa Pon ini dia akan dilantik menjadi Presiden Negeri Poci.

Bertempat di Lapangan Taman Poci depan Stasiun Tegal, di seberang Pasar Ireng berhadapan dengan UPS (Universitas Pating Slebar kata orang Tegal), bersebelahan dengan lapangan PJKA (padahal sekarang sudah PT KA tetep saja orang bilang PJKA) tempat nongkrong bencong dan tlembuk-tlembuk (perek) stasiun. Di sekeliling tugu Poci Ngglewang (agak miring) persiapan untuk pelantikan Presiden Negeri Poci sedang berlangsung.

Tampak kerumunan orang mengelilingi tugu Poci Ngglewang sambil membawa bendera Partai Ortega (Partai Orang Tegal) yang juga bergambar poci yang sedikit miring. Partai Ortega inilah yang mengusung Bokir Kobama menjadi pemenang pemilihan Presiden Negeri Poci mengalahkan Jon Dalban dari Partai Tela (Partai Tegal Laka-laka) yang bergambar ketela pohon, dalam Pilcoblung (Pemilihan Coblosan Langsung) yang digelar akhir tahun yang lalu.

Tidak seperti pendukung Presiden di negara Amrik yang namanya agak mirip dengan Bokir Kobama, yang rela menginap di suasana dingin menjelang pelantikan di Hall Gedung Putih, pendukung Bokir Kobama tidak perlu jauh-jauh menginap di dekat Taman Poci karena mereka kebanyakan adalah pedagang-pedagang yang tiap hari ada di sekitar taman Poci untuk mencari sesuap nasi. Di antara mereka terdiri dari berbagai macam ormas seperti PTB Desta atau Perkumpulan Tukang Becak Depan Stasiun, PerGangBeng alias Persatuan Pedagang Rombeng, BMX alias Bakul Martabak Lebaksiu, Askubleng alias Asosiasi Kupat Blengong, KG2 alias Kumpulan Grobak Kupat Glabed, dan PPO atau Persatuan Penarik Odhong-odhong yang merupakan gabungan dari para penyedia jasa mainan anak-anak dari mulai Undar (komidi putar), Ombak Banyu (semacam komidi putar dengan poros yang bisa membuat gelombang), hingga para pemutar Odhong-odhong (semacam bianglala yang diputar manual).

"Bokir, Bokir, Bokir,.... Bokir," kerumunan massa mulai mengeluk-elukan Presiden mereka yang akan segera dilantik. Tampak Bokir Kobama dengan jas kelabu khas dan dasi merah Indonesia tampak tersenyum tenang menjelang upacara pelantikannya. Asal tahu saja Bokir Kobama memang masih bujangan sehingga dia tidak membawa pasangan seperti pelantikan presiden di luar sana. Bokir hanya perlu memakai kupluk hitam seperti Bung Karno agar kelihatan resmi.

Pembawa acara memulai acara, kepala Bokir Kobama dinaungi kitab suci dari belakang, seorang Kyai Sepuh memimpin pembacaan doa dan pelantikan.

"Sampean mengko kari nirokena, aja nganti klalen 1,"*) tutur sang Kyai Sepuh Bokir Kobama mengangguk, dan kemudian segera mengulangi sumpah yang diajarkan oleh Kyai Sepuh.

"Bismillahirahmanirahim, kula Bokir Kobama, dinten meniko sampun prasetya ing ngarsane gusti kang maha pengasih, kule bade setia lan njagani konstitusi negeri Poci lan ngayomi dumateng tiang alit lan tiang-tiang susah sanesipun 2."

Ringkas dan cepat sumpah yang diucapkan Bokir Kobama karena amanat konstitusi negeri Poci memang memberi penekanan bahwa Presiden Negeri Poci harus mampu mengayomi masyarakat kecil maupun masyarakat lain yang mengalami kesusahan dalam hidupnya, sederhana tidak muluk-muluk.

Giliran Bokir Kobama memulai pidato pelantikan dirinya.

"Assalamualaikum, sedulur kabeh, masyarakat Negeri Poci, anane enyong nang kene ora liya kawit saking dukungane sampeyan kabeh. Enyong kiye Bokir Kobama, langka apa-apane yen Draup tukang becak, nganti Darpun tukang miyang, ora nyoblos gambare enyong. Enyong ora bakal bisa ngubah kahanan dadi luwih apik yen enyong ora ngarti ngayomi maring Takyun bakul gorengan, lan Turah sing bakul ponggol.

Mulane awit dina kiye, sedulur kabeh monggo enyong diganyami, enyong dituturi, enyong diceweng, enyong diglithok, yen enyong wis ora tau bisa ngayomi maring sadulur kabeh. Aja nganti anane enyong dadi Presiden Negeri Poci terus enyong korupsi, wis naudzubillah min dzalik lah, moga-moga aja nganti kaya kuwe. Wis ora kesuwen semene bae pidatone, wassalam
3"

Bokir pun telah menyudahi pidatonya. Acara pelantikan Presiden Negeri Poci sudah Paripurna. Bokir pun segera menuju ke becak kesayangannya untuk segera diarak mengelilingi jalan-jalan negeri poci ditemani oleh Man Draup sahabatnya.

*) atas saran beberapa teman terjemahan ditaruh di bagian bawah

======================== Catatan Penerjemah

1."Kamu nanti tinggal menirukan jangan sampai lupa,"

2."Bismillahirahmanirrahim, saya Bokir Kobama hari ini telah berjanji di depan Tuhan yang maha pengasih, saya akan setia menjaga konstitusi negeri Poci dan mengayomi rakyat kecil dan masyarakat yang mengalami kesusahan (hidup) lainnya."

3."Assalamualaikum, saudara semua, masyarakat negeri poci, adanya saya di sini tidak lain berawal dari dukungan saudara semua. Saya ini Bokir Kobama, tidak ada apa-apanya kalau Draup tukang becak sampai Darpun tukang miyang (nelayan, pencari ikan), tidak mencoblos gambar saya. Saya tidak akan bisa mengubah keadaan jadi lebih baik jika saya tidak tahu untuk mengayomi kepada Takyun penjual gorengan dan Turah penjual (nasi) ponggol.

Maka sejak hari ini, saudara semua silakan saya dimarahi, saya diberi pengarahan, saya dijewer, saya dijitak, kalau saya sampai tidak pernah bisa mengayomi saudara-saudara semua. Jangan sampai adanya saya menjadi Presiden Negeri Poci terus membuat saya korupsi, naudzubillahi min dzalik, semoga jangan sampai menjadi seperti itu. Sudah jangan terlalu lama pidatonya, wassalam."

Tuesday, January 20, 2009

Presiden Bokir Kobama Ketemu Dalang Kenthus di Penjara

Parodi Negeri Poci Jilid 2

Presiden Bokir Kobama Ketemu Dalang Kenthus di Penjara

Sehari menjelang pelantikannya, Presiden Negeri Poci Bokir Kobama tiba-tiba kangen pada sahabatnya Dalang Kenthus yang sejak beberapa waktu lalu harus menginap di "Elpe" gara-gara ngompori grayak menyerbu stasiun radio milik pemerintah kabupaten Tegal. Mumpung masih kelingan Bokir Kobama segera mengirim SMS ke becak langganannya Man Draup untuk menjemputnya di dekat pengkolan Tirus.

Ada tulisan di hape Bokir Kobama berbunyi "Beres Bos, OTW." Bokir Kobama cuma nyengir membaca istilah Man Draup yang gaul bin ajaib. Sungguh Bokir Kobama heran darimana si Draup ngerti istilah chating yang beginian. Padahal baru setelah Bokir terpilih menjadi Presiden Negeri Poci, Man Draup mendapat lungsuran hape Bokir yang tipe sejuta umat dengan merek Nopia yang masih ada antenenya nongol sedikit. Bokir sendiri karena sudah jadi Presiden Negeri Poci ya musti ganti lah dengan memakai hape Nopia Konmunikantor yang ada layar komputer mininya biar nggak kalah sama para caleg dan calo politik yang biasanya bawa model itu.

"Klonthang! Klonthang!" terdengar bel becak Man Draup yang khas model Bandhul Jaran yang saat ini sudah jarang sekali dipakai oleh para Becakers di Negeri Poci ini. Bokir pun segera berlari dengan memakai jas kelabu ciri khas Bokir Kobama dengan dasi merah berani Indonesia.

" Draup, saiki giliran kowen nggenjot tekan Slawi, kuat belih?" (Draup sekarang giliran kamu genjot becak sampai Slawi, kuat apa tidak), tanya Bokir Kobama kepada Draup

"Ajaha Slawi, maring Jakarta bae hayo tak lakoni," (jangankan Slawi, ke Jakarta aku jalani), jawab Man Draup dengan yakin.

"Wis gagiyan, saiki maring Elpe kelas II B ning Slawi," (Cepetan, sekarang ke LP kelas IIB di Slawi), perintah Bokir Kobama dengan berwibawa.

"Bos pan niliki Dalang Kenthus ya," (Bos mau menengok Dalang Kenthus ya), sergah Man Draup dengan sigap.

"Ganing kowen ngarti Draup, pinter temen rika bisa mbadhek pikirane enyong," (Kok kamu tahu Draup, pintar sekali kamu bisa menebak pikiranku), Bokir terheran-heran.

"Draup kiye, senajan wonge njheplek tapi utekke encer," (Draup ini walaupun orangnya jelek tapi otaknya encer) timpal Draup dengan semangat.

"Oh iya Man Draup mesti wis maca korantegal dot kom yah, sing aku ngomong prihatin karo kejadiane si Dalang Kenthus mlebu Elpe II B Slawi," Bokir Kobama ingat kalau dia pernah mengucapkan prihatin di korantegal dot kom tentang kejadian yang menimpa sahabatnya.

"Ya iyalah, masa ya iyadong, sing tuwa pada polah, apa maning sing wudhel bodhong," (Ya iyalah, masa ya iya dong, yang tua pada berulah apalagi yang pusarnya bodong) jawab Man Draup sambil berpantun gaul anak sekarang.

"Ana-ana bae ente Draup, " (Ada-ada saja kamu Draup) gumam Bokir Kobama dengan tersenyum.

Becak itupun menembus pagi yang agak berawan karena masih musim hujan, lari gemerincing suara perkusi dari berbagai besi dan kaleng yang dipasang Man Draup di bawah poros roda becaknya menuju ke arah LP II B di Slawi.

Alkisah Bokir Kobama telah sampai di LP II B Slawi tepatnya di desa Tegalandong kecamatan Lebaksiu. Bokir pun segera meloncat dari becaknya setelah menyuruh Man Draup untuk menunggu di warung terdekat. Sipir penjara LP II B Slawi menyambut dengan hangat kehadiran Bokir Kobama dan mempersilakan Bokir Kobama untuk segera bertemu dengan si Dalang Kenthus di tempat yang telah disiapkan sebelumnya.

"Assalamualaikum Kenthus," Bokir Kobama menyapa duluan.

" Waalaikum salam, Eh, Bokir ya, jebule ente, jarene ana presiden sing arep dilantik tapi pengen ketemu Enyong," (Waalaikum salam Bokir ya, ternyata kamu, katanya ada presiden yang akan dilantik tapi ingin ketemu saya) sambut Dalang Kenthus dengan senyum lebar.

" Iya, mumpung enyong durung dilantik dadi isih bisa kloyongan," (iya mumpung saya belum dilantik jadi masih bisa jalan-jalan) jawab Bokir Kobama.

"Lha kuwe, arane kanca, kelingan karo sing lagi sengsara kaya enyong, priben maning wong wis kedaden," (Ya itu, namanya teman, ingat dengan yang sedang sengsara seperti aku, mau gimana lagi kan sudah kejadian) sambut Dalang kenthus dengan prihatin.

"Ini likuh, pancen nyong perlu mene, soale anane ente mlebu elpe kuwe kedaden sing laka-laka, ora ben dina ana kedaden kaya kuwe, ente kan dalang, ngudal pawulang, sing ngajari, nuturi masyarakat ben tumindake apik liwat pagelarane sampeyan, tapi jebul dadi Jarkoni ngajari tapi ora bisa ngelakoni," (Ini dia, memang aku perlu ke sini, soalnya dengan kamu masuk ke LP itu kejadian yang jarang-jarang, tidak tiap hari ada kejadian seperti itu, anda itu dalang, ngudal pawulang, yang mengajari, yang memberi tuturan kepada masyarakat agar bertindak baik lewat pagelaran anda, tapi kok kemudian Jarkoni, memberi ajaran tapi tidak bisa melaksanakannya) tutur Bokir Kobama mengungkapkan keprihatinannya.

"Bokir, dadi ente sing luwih wisesa ya, bisa nuturi enyong sing luwih tuwa ya, hehehe, muga-muga kejadiane enyong sing pancen ora apik kiye bisa dadi pagelaranku sing bakal dieling-eling nganti generasi sak wise, enyong ya sadar tindakan kiye ora apik, tapi enyong ya manungsa biasa, bisa tumindak salah, enyong terima hukumane enyong sing loro setengah wulan kuwe, enyong ora mrengkel," (Bokir, kamu ternyata lebih bijaksana, bisa memberi nasehat pada yang lebih tua, semoga kejadianku yang memang tidak baik ini bisa menjadi pagelaranku yang akan selalu diingat-ingat oleh generasi yang akan datang. Aku sadar kalau tindakanku tercela, tapi aku juga manusia biasa, bisa bertindak salah, aku terima hukumannya yang dua setengah bulan itu, aku tidak menolaknya) jawab Dalang Kenthus dengan rasa penyesalan.

"Enyong ya melu prihatin tur seneng yen sampiyan wis sembada, sebagai penggemar Dalang Kenthus enyong yang tetep kelingan pagelarane sampiyan sing nylekit, nyengiti, tapi akeh pelajaran budi pekertine, muga bae ngesuk maning anane penggemare sampiyan ora kurang lan rejekine ya tetep lancar," (Aku ikut prihatin tetapi juga seneng anda bisa menerima segala konsekuensinya, sebagai penggemar Dalang Kenthus aku tetap ingat pagelaran anda yang menyentil dan membuat benci tapi banyak pelajaran budi pekertinya, semoga besok lagi penggemar anda tidak berkurang dan rejeki tetap lancar) sahut Bokir Kobama kepada sahabatnya.

"Matur nuwun Kir, anane ente bisa niliki enyong," (Terima kasih Bokir, karena kamu bisa menengokku) Dalang Kenthus menjabat tangan Bokir Kobama

"Ya wis, Kenthus, Enyong balik ndhisit ya, si Draup wis kesuwen ngenteni," (Ya sudah Kenthus aku pulang dulu ya, si Draup sudah terlalu lama menunggu) jawab Bokir Kobama sambil menjabat tangan sahabatnya.

Bokir Kobama pun segera berlalu daru LP II B Slawi dan menuju ke tempat Man Draup memarkir becaknya di warung poci terdekat.

Friday, January 16, 2009

Bokir Kobama Ketemu Pedagang Kompor Blik


Serial Parodi Presiden Negeri Poci Bokir Kobama

Jilid 01



Bokir Kobama yang sebentar lagi mau dilantik jadi Presiden Negara Poci menikmati jalan-jalan sore di satu pojok negara poci, tepatnya di sekitar perkampungan Pepedhan di Jalan Pagongan Kabupaten Tegal.

Sambil ngerokok kretek Djaja tapi masih berpakaian resmi kepresidenan Bokir Kobama menikmati semilir angin sore di atas becak yang biasa digenjot sama Man Draup.

"Man Draup wis anjog ndi kiyeh? (Man Draup sudah sampai di mana ini?)" tanya Bokir Kobama

"Wis anjog Pepedhan, pak. (Sudah sampai Pepedhan) " jawab Draup

"Oh iya, ya brarti melune Pagongan ya, (Berarti ikutnya Pagongan ya) " sahut Bokir Kobama

"iyaa, kiye arane kampung Pepedhan, apa bae ana nang kene, wong pada pinter-pinter nggawe barang-barang industri umahan," (Iya ini namanya Kampung Pepedhan, apa saja ada di sini, orang pada pintar-pintar membuat barang-barang industri rumahan) jelas Draup dengan lihainya.

" Hebat Kowen Draup, wong tegal pancen wis terkenal bisa nggawe barang-barang teknologi madya, aku mbiyen tau maca bukune sejarawan indonesia sing saka Negara Ostrali, arane Anton Lucas, dheweke nerangena yen jaman 45 wong Tegal wis bisa nggawe Kapal Selam, yen ora salah tempate ya nang sekitar kene Pagongan tekan Talang," (Hebat kamu Draup, orang Tegal memang sudah terkenal bisa membuat barang-barang teknologi madya, dulu aku pernah membaca bukunya sejarawan Indonesia yang berasal dari Australia namanya Anton Lucas bahwa orang tegal sudah bisa membuat Kapal Selam) jawab Bokir Kobama tak mau kalah

Mereka berdua menikmati diskusi diatas becak, sambil bicara tentang Kejayaan Negara Poci pada Jaman 45 yang memang dikuasai Bokir Kobama karena dia memang pernah kuliah Sejarah Negara Poci.

Tampak sosok di depan becak yang ditumpangi Bokir Kobama, seorang laki-laki umur lebih dari 60 tahun memikul Kompor Blik (kaleng) yang biasa diisi minyak tanah dengan langkah lesu dan terlihat lelah.

Barak Kobama tertegun dan segera meloncat dari becaknya.

" Drauuup, Huuup, Mandeg !!! (Draup, Stop, berhenti!!!)," teriak Obama sebelum meloncat

Becak berhenti, Bokir Kobama menghampiri pemikul kompor blik di depannya.

"Pak, kayong theol ya, ganing kompore esih pirang-pirang (Pak, capek ya, kok kompornya masih banyak)," tanya Bokir Kobama kepada pemikul kompor

"Iya kiye, sajege lenga tanah langka, nyong dadi kayakiye, sengsara (Iya ini, sejak minyak tanah tidak ada, aku jadi seperti ini, sengsara)," sahut si pemikul kompor

"Kayakiye kepriben, (kayak begini, kenapa)" tanya Bokir Kobama

"Sengsara lah pokoke, ider kompor, awit sing kidul maring lor, dilirik bae ora (Sengsara pokoknya, aku tawarkan kompor dari Selatan sampai Utara, dilirik aja tidak), " tutur si pemikul kompor

Bokir Kobama pun termenung, memang benar bahwa sejak minyak tanah ditarik dari peredaran nasib industri pembuatan kompor minyak tanah rumahan langsung anjlok. Dari penuturan si pemikul yang sekaligus menjadi pedagang Kompor, Bokir Kobama tahu bahwa permintaan kompor langsung amblas, belum lagi si pedagang harus membayar tunai belanjanya kepada pengrajin kompor.

Bokir Kobama kembali ke becaknya dan bertekad bahwa kalau dia sudah dilantik jadi Presiden Negara Poci dia tidak akan gegabah main tarik barang kebutuhan rakyat kecil seperti yang telah dia jumpai.